Langsung ke konten utama

Sapiens 01: Hewan Tak Berarti

SEKITAR 13,5 miliar tahun silam, zat, energi, waktu, dan ruang terlahir dalam apa yang dikenal sebagai Ledakan Besar. Kisah tentang bagian-bagian mendasar alam semesta kita ini disebut fisika.

Kira-kira 300.000 tahun setelah muncul, zat dan energi mulai bergabung menjadi struktur-struktur kompleks, disebut atom, yang kemudian berkombinasi menjadi molekul-molekul. Kisah atom, molekul, dan interaksinya disebut kimia.

Lantas 3,8 miliar tahun lalu, di satu planet yang disebut Bumi, molekul-molekul tertentu berpadu membentuk struktur-struktur amat besar dan rumit yang disebut organisme. Kisah organisme-organisme disebut biologi.

Tiga revolusi penting membentuk jalannya sejarah: Revolusi Kognitif mengawali sejarah sekitar 70.000 tahun silam. Revolusi Pertanian mempercepat sejarah sekitar 12.000 tahun silam. Revolusi Sains, yang baru mulai berlangsung 500 tahun silam, boleh jadi akan mengakhiri sejarah dan mengawali sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Buku ini menuturkan kisah tentang bagaimana ketiga revolusi ini telah berpengaruh kepada manusia dan makhluk hidup lain.

Manusia sudah ada lama sebelum sejarah ada. Hewan-hewan yang sangat mirip manusia modern muncul pertama kali sekitar 2,5 juta tahun lalu, Namun selama bergenerasi-generasi mereka tidak tampak menonjol di antara luar biasa banyaknya organisme lain yang hidup di habitat yang sama.

Bila berjalan-jalan di Afrika Timur 2 juta tahun silam, Anda mungkin menjumpai sekelompok karakter manusia yang akrab dengan Anda: ibu-ibu cemas yang memeluk bayinya dan sekumpulan anak-anak yang bermain riang gembira di lumpur; cowok macho pamer otot yang berusaha membuat kembang desa terkesan dan nenek-nenek bijak yang telah mengalami segala hal. Manusia-manusia purba ini bercinta, bermain, menjalin persahabatan, dan bersaing demi status dan kekuasaan -- namin simpanse, babun, dan gajah juga melakukannya. Tidak ada yang istimewa pada manusia. Tak seorang pun, termasuk juga para manusia itu sendiri, yang sedikit pun terpikir bahwa keturunan mereka suatu hari kelak akan berjalan di Bulan, memecah atom, membaca sandi genetik, dan menulis buku sejarah. Yang terpenting untuk diketahui mengenai manusia purba adalah bahwa mereka merupakan hewan tak berarti dengan dampak terhadap lingkungan tak lebih besar daripada gorila, kunang-kunang, atau ubur-ubur.

Ahli biologi menggolongkan makhluk menjadi spesies-spesies. Beberapa hewan disebut sebagai anggota spesies yang sama bila mereka bisa saling kawin dan menghasilkan keturunan yang subur. Kuda dan keledai memiliki leluhur bersama belum lama ini dan menunjukkan banyak kemiripan ciri fisik. Namun keduanya hanya sedikit berminat secara seksual satu sama lain. Kuda dan keledai bisa kawin bila didorong untuk melakukannya -- namun keturunan keduanya, disebut bagal, bersifat steril atau mandul. Oleh karena itu mutasi di DNA keledai  tak akan pernah bisa menyeberang ke kuda, dan sebaliknya. Maka kedua tipe hewan itu dianggap dua spesies berbeda, yang menjalani jalur-jalur evolusi berbeda. Sementara itu, bulldog dan spaniel mungkin terlihat amat berbeda, namun keduanya merupakan anggota spesies yang sama, berbagi lumbung DNA yang sama. Mereka bisa kawin dengan senang hati dan anak-anak mereka akan tumbuh sampai bisa kawin dengan anjing lain dan menghasilkan lebih banyak lagi anak anjing.

Spesies spesies yang berevolusi dari leluhur bersama dikelompokkan dalam satu "genus". Singa, harumau, macan tutul, dan jaguar adalah spesies-spesies berbeda dalam genus Panthera. Ahli biologi melabeli organisme dengan nama Latin berbagian dua, yaitu nama genus diikuti nama spesies. Singa, misalnya, disebut Panthera leo, spesies leo dalam genus Panthera. Barangkali semua yang membaca buku ini adalah Homo sapiens -- spesies sapiens (bijak) dalam genus Homo (manusia).

Genus sendiri dikelompokkan menjadi famili, misalnya famili kucing (singa, citah, kucing peliharaan), famili anjing (serigala, rubah, anjing hutan), dan famili gajah (gajah, mamut, mastodon). Semua anggota suatu famili bisa dilacak garis keturunannya sampai ke leluhur pendirinya. Semua kucing, misalnya, dari kucing peliharaan yang paling imut sampai singa yang paling ganas, sama-sama keturunan leluhur bersama famili kucing yang hidup sekitar 25 juta tahun silam.

Homo sapiens juga merupakan anggota satu famili. Fakta gamblang itu tadinya merupakan salah satu rahasia yang paling terkunci dalam sejarah. Homo sapiens sejak lama lebih suka memandang dirinya sendiri sebagai berbeda dari hewan, yatim-piatu tanpa sanak, tanpa kakak-adik maupun sepupu, dan yang paling penting, tanpa orangtua. Namun bukan begitu kenyataanya. Suka atau tidak, kita adalah anggota satu famili besar dan sangat berisik yang disebut kera besar. Kerabat-kerabat terdekat kita yang masih ada adalah simpanse, gorila, dan orangutan. Simpanse adalah kerabat kita yang paling dekat. Enam juta tahun yang lalu, satu kera betina memiliki dua putri. Yang satu menjadi nenek moyang semua simpanse, yang satu lagi adalah nenek moyang kita.

Rahasia yang Tersimpan Rapat

Homo sapiens selama ini menyimpan satu lagi rahasia yang menggelisahkan. Kita bukan saja memiliki banyak sekali sepupu yang tak beradab. Dulu kita pun pernah punya beberapa kakak dan adik. Kita dahulu biasa berpikir kitalah satu-satunya manusia, karena selama 10.000 tahun terakhir, memang spesies kitalah satu-satunya spesies manusia yang ada. Namun makna kata manusia yang sebenarnya adalah "hewan yang merupakan anggota genus Homo", dan pernah ada banyak spesies lain dalam genus ini selain Homo sapiens. Selain itu, seperti yang akan kita lihat di bab terakhir buku ini, pada masa depan yang tidak lama lagi datang, kita mungkin harus kembali berurusan dengan manusia-manusia non-sapiens. Untuk menjernihkan perkara ini, saya akan sering menggunakan istilah "Sapiens" untuk menyebut anggota-anggita spesies Homo sapiens, sementara istilah "manusia" saya gunakan untuk mengacu kepada semua makhluk hidup yang sekarang dimasukkan dalam genus Homo.

Manusia pertama kali berevolusi di Afrika Timur sekitar 2,5 juta tahun silam dari satu genus kera yang lebih tua, Australopithecus, yang berarti "Kera Selatan". Sekitar 2 juta tahun silam, sebagian laki-laki dan perempuan purba meninggalkan tanah air mereka untuk menempuh perjalanan melalui Afrika Utara, Eropa, dan Asia, serta bermukim di wilayah-wilayah itu. Karena kelestarian di hutan bersalju Eropa utara membutuhkan sifat-sifat yang berbeda dengan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di rimba sumuk Indonesia, populasi-populasi manusia pun berevolusi ke arah berbeda-beda. Hasilnya adalah beberapa spesies berbeda, yang masing-masing diberi nama Latin dengan gaya oleh ilmuwan.

Saudara-saudara kita, menurut rekonstruksi spekulatif (kiri ke kanan): Homo rudofensis (Afrika Timur); Homo erectus (Asia Timur); dan Homo neanderthalensis (Eropa dan Asia Barat). Semuanya manusia.

Manusia di Eropa dan Asia barat berevolusi menjadi Homo neanderthalensis ("Manusia dari Lembah Neander"), yang populer disebut "Neandertal" saja. Neandertal, yang lebih gempal dan lebih berotot daripada kita Sapiens, teradaptasi sangat baik untuk iklim dingin Zaman Es di Erasia barat. Wilayah-wilayah yang terletak lebih ke timur di Asia dihuni oleh Homo erectus, "Manusia Tegak", yang bertahan di sana selama nyaris 2 juta tahun, menjadikannya spesies manusia yang bertahan paling lama. Rekor itu kecil kemungkinan bisa dipecahkan oleh spesies kita sendiri. Homo sapiens diragukan akan masih ada seribu tahun dari sekarang, jadi 2 juta tahun itu benar-benar tidak tergapai oleh kita.

Di Pulau Jawa, di Indonesia, hidup Homo soloensis, "Manusia dari Lembah Solo", yang cocok untuk hidup di wilayah tropis. Di Pulau Indonesia lainnya -- Flores yang lebih kecil -- manusia-manusia purba mengalami proses menjadi katai. Manusia pertama kali mencapai Flores ketika permukaan laut luar biasa rendah, dan pulau tersebut mudah dicapai dari benua. Ketika lautan kembali meninggi, sejumlah manusia terperangkap di pulau itu, yang tidak kaya sumber daya. Manusia-manusia besar, yang membutuhkan banyak makanan, musnah terlebih dahulu. Kawan-kawan mereka yang berukuran lebih kecil bisa bertahan dengan lebih baik. Selama bergenerasi-generasi, manusia Flores menjadi katai. Spesies unik ini, dikenal oleh para ilmuwan sebagai Homo floresiensis, mencapai tinggi maksimum satu meter saja dan berbobot tak lebih daripada dua puluh lima kilogram. Tetap saja mereka menghasilkan perkakas batu, dan bahkan terkadang berhasil memburu gajah di pulau itu -- meskipun memang spesies gajahnya juga katai.

Pada 2010 satu lagi saudara yang hilang ditemukan, ketika para ilmuwan yang menggali Gua Denisova di Siberia mendapatkan sebatang tulang jari yang memfosil. Analisis genetika membuktikan bahwa jari itu dimiliki oleh spesies manusia yang belum dikenal, yang kemudian yang dinamai Homo denisova. Siapa yang tahu berapa banyak kerabat kita yang hilang dan masih menanti ditemukan di gua-gua lain, di pulau-pulau lain, dan wilayah-wilayah iklim lain?

Selagi manusia-manusia ini berevolusi di Eropa dan Asia, evolusi di Afrika Timur tidak berhenti. Buaian umat manusia terus mengasuh spesies-spesies baru, semisal Homo rudolfensis, "Manusia dari Danau Rudof"; Homo ergaster, "Manusia Bekerja"; dan akhirnya spesies kita sendiri, yang dengan congkak kita namai Homo sapiens, "Manusia Bijak".

Anggota-anggota berbagai spesies ini tinggi-besar sementara yang lain berperawakan pendek. Sebagian di antaranya pemburu ganas, sementara yang lain pemburu-pengumpul yang lemah-lembut. Ada yang hidup di satu pulau saja, ada pula yang mengembara di berbagai benua. Namun semuanya merupakan anggota genus Homo. Mereka semua manusia.

Ada salah kaprah ketika kita membayangkan spesies-spesies itu tersusun dalam garis keturunan yang lurus, dengan ergaster menjadi erectus, erectus menjadi Neandertal, dan Neandertal berevolusi menjadi kita. Model linier ini memberikan kesan yang salah bahwa setiap saat hanya ada satu tipe mansuia tertentu yang menghuni Bumi, dan bahwa semua spesies terdahulu hanyalah model diri kita versi lama. Yang benar adalah sejak sekitar 2 juta tahun lalu sampai sekitar 10.000 tahun lalu, planet ini adalah rumah bagi beberapa spesies manusia sekaligus. Lagipula mengapa tidak? Zaman sekarang, ada banyak spesies rubah, beruang, dan babi. Bumi ratusan ribu tahun lalu diinjak oleh setidaknya enam spesies manusia berbeda. Yang janggal -- dan barangkali merupakan bukti kejahatan kita -- justru kesendirian kita sekarang, bukannya keragaman spesies manusia seperti masa lalu. Seperti yang akan segera kita lihat, kita Sapiens punya alasan bagus untuk menutupi kenangan tentang saudara-saudara kita.

Ongkos Berpikir

TERLEPAS dari banyaknya perbedaan antarmereka, semua spesies manusia memiliki sejumlah kesamaan curu yang menentukan. Yang paling utama, manusia memiliki otak yang luar biasa besar dibandingkan hewan-hewan lain. Mamalia yang berbobot enam puluh kilogram memiliki volume otak rata-rata 200 sentimeter kubik. Manusia paling awal, 2,5 juta tahun silam, memiliki otak berukuran kira-kira 600 sentimeter kubik. Sapiens modern memiliki otak sebesar rata-rata 1.200 - 1.400 sentimeter kubik. Otak Neandertal bahkan lebih besar lagi.

Bahwa evolusi seharusnya mengunggulkan otak yang lebih besar mungkin sepertinya, yah, tak perlu otak cerdas untuk bisa dipahami. Kita sedemikian terpesona oleh kecerdasan kita yang tinggi seingga menganggap bahwa dalam hal otak, semakin besar pasti semakin baik. Namun bila benar demikian, famili kucing pastilah juga telah menghasilkan kucing yang bisa menghitung-hitung kalkulus. Mengapa genus Homo satu-satunya genus di seluruh kingdom hewan yang mendapat mesin pemikir sebesar itu lewat evolusi?

Faktanya adalah otak jumbo juga mendatangkan kerepotan jumbo bagi tubuh. Otak besar tidak mudah dibawa-bawa, apalagi bila terbungkus dalam tengkorak yang besar sekali. Menyediakan energi bagi otak bahkan lebih repot lagi. Di Homo sapiens, otak mewakili sekitar 2-3 oersen total berat tubuh, namun melahap 25 persen energi tubuh ketika tubuh beristirahat. Bila dibandingkan, otak kera-kera lain membutuhkan hanya 8 persen energi saat rehat. Manusia purba membayar ongkos untuk otak besar mereka dalam dua cara. Pertama-tama, mereka mengabiskan lebih banyak waktu untuk mencari makanan. Kedua, otot-otot mereka menyusut. Seperti pemerintah yang mengalihkan uang dari pertahanan untuk pendidikan, manusia mengalihkan energi dari urat ke saraf. Sulit menyimpulkan bahwa itu strategi yang bagus untuk bertahan hidup di sabana. Simpanse tidak bisa memenangkan adu argumen dengan Homo sapiens, namun kera itu bisa merobek-robek manusia bagaikan boneka perca.

Otak kita yang besar memberikan banyak keunggulan karena dengannya kita bisa membuat mobil dan senjata yang memungkinkan kita bergerak jauh lebih cepat daripada simpanse, dan menembak simpanse dari jarak yang aman tanpa perlu bergulat dengannya. Tapi mobil dan senjata adalah fenomena yang cukup baru. Selama 2 juta tahun lebih, jejaring saraf manusia terus bertumbuh dan bertumbuh, namun selain beberapa pisau batu api dan tongkat runcing, tak banyak yang manusia bisa tunjukkan sebagai buktinya. Apa yang lantas mendorong maju evolusi otak kita menjadi besar selama 2 juta tahun itu? Jujur, kita belum tahu.

Satu lagi sifat aneh manusia adalah kita berjalan tegak dengan dua kaki. Dengan berdiri, lebih mudah untuk mengawasi sabana guna menemukan buruan atau musuh, dan lengan yang tidak dibutuhkan untuk berpindah tempat pun bebas melakukan kegunaan-kegunaan lain, misalnya melontar batu atau memberi isyarat. Semakin banyak hal yang bisa dilakukan tangan, semakin sukses pemiliknyam sehingga tekanan evolusi meyebabkan semakin terkonsentrasinya saraf dan otot-otot yang cekatan di telapak tangan dan jari tangan. Alhasil, manusia bisa melakukan tugas-tugas yang amat rumit dengan tangan. Yang terutama, manusia bisa membiat dan menggunakan alat canggih. Bukti pertama produksi alat berasal dari sekitar 2,5 juta tahun silam, dan pembuatan serta penggunaan alat adalah kriteria yang digunakan ahli arkeologi untuk mengenali manusia purba.

Namun berjalan tegak ada ruginya. Kerangka leluhur primata kita berkembang selama jutaan tahun untuk menyokong makhluk yang berjalan dengan empat kaki dan memiliki kepala relatif kecil. Menyesuaikan dengan posisi tegak cukup merupakan tantangan, apalagi ketika kerangka itu harus menyokong tengkorak yang ekstra-besar. Umat manusia membayar penglihatannnya yang hebat dan tangannya yang cekatan dengan sakit punggung dan leher kaku.

Perempuan membayar lebih besar. Berjalan tegak membutuhkan pinggul yang lebih kecil, menyempitkan saluran peranakan -- padalah kepala bayi justru terus bertambah besar. Kematian saat melahirkan anak menjadi bahaya besar bagi manusia perempuan. Perempuan yang melahirkan lebih dini, ketika otak dan kepala bayi masih relatid kecil dan lentur, lebih bisa bertahan dan hidup lebih lama untuk miliki lebih banyak anak. Karena itu seleksi alam mengunggulkan kelahiran yang lebih cepat. Dan, memang, dibandingkan hewan-hewan lain, manisoa terlahir prematur, ketika banyak sistem vitalnya belum berkembang sempurna. Anak kuda bisa langsung berlari tak lama setelah lahir; anak kucing meninggalkan ibunya untuk mencari makan sendiri ketika usianya baru beberapa minggu. Bayi manusia tak berdaya, bergantung selama bertahun-tahun kepada manusia-manusia yang lebih tua demi memperoleh pangan, perlindungan, dan pendidikan.

Fakta ini telah bersumbangsih sangat besar kepada kemampuan sosial umat manusia yang luar biasa sekaligus masalah-masalah sosialnya yang unik. Ibu-ibu yang menjadi orangtua tunggal sulit mendapatkan cukup makanan untuk anak-anak dan diri mereka sendiri sementara diganduli anak-anak yang butuh perhatian. Membesarkan anak membutuhkan bantuan terus-menerus dari anggota-anggota keluarga lainnya dan tetangga. Butuh seluruh suku untuk membesarkan seorang manusia. Itu sebabnya evolsui mengunggulkan manusia-manusia yang bisa membentuk ikatan sosial yang erat. Selain itu, karena terlahir dalam keadaan belum berkembang sempurna, manusia bisa dididik dan menjalani sosialisasi sampai tingkatan yang jauh lebih besar daripada hewan lain. Kebanyakan mamalia muncul dari rahim bagaikan tembikar berglasir yang dikeluarkan dari tungku -- upaya apapun untuk mengubah bentuknya akan menggores atau membuatnya pecah. Manusia bisa dipelintir, direntangkan, dan dibentuk dengan derajat kebebasan yang mengejutkan. Inilah mengapa kini kita bisa mendidik anak-anak kita untuk menjadi penganut Kristen atau agama Buddha, kapitalis atau sosialis, suka berperang atau cinta damai.

KITA mengasumsikan bahwa otak yang besar, penggunaan alat, kemampuan belajar yang hebat,  dan struktur-struktur sosial yang kompleks merupakan keunggulan besar. Tampaknya sudah jelas bahwa semua itu telah membuat umat manusia menjadi hewan paling digdaya di Bumi. Namun manusia menikmati semua keunggulan tersebut selama tak kurang daripada 2 juta tahun selagi masih berupa makhluk yang lemah dan berada di pinggiran. Dengan demikian manusia yang hidup sejuta tahun silam, meskipun memiliki otak yang besar dan alat batu yang tajam, merasa senantiasa ketakutan terhadap pemangsa, jarang mengejar hewan buruan besar, dan menyambung hidup terutama dengan mengumpulkan tumbuhan, menangkapi serangga, mengincar hewan kecil. dan melahap bangkai yang disisakan oleh hewan pemakan daging lain yang lebih digdaya. 

Salah satu penggunaan paling umum alat batu purba adalah memecah tulang untuk memperoleh sumsumnya. Sejumlah peneliti percaya itulah relung asli kita di alam. Seperti burung pelatik terspesialisasi mengambil serangga dari batang pohon, manusia-manusia pertama berspesialisasi mengambil sumsum dari tulang. Mengapa sumsum? Yah, bayangkan Anda mengamati sekawanan singa menjatuhkan dan menyantap jerapah. Anda menanti dengan sabar sampai mereka selesai. Namun giliran Anda belum lagi tiba karena terlebih dulu hyena dan jakal memakan sisa-sisa yang ditinggalkan singa -- dan Anda ogah mengganggu-gugat mereka. Baru setelahnya Anda dan kawanan Anda berani mendekati bangkai tersebut, sambil menengok-nengok cemas ke kiri dan ke kanan -- sambil menyambah remah-remah yang masih bisa dimakan.

Inilah kunci untuk memahami sejarah dan psikologi kita. Posisi genus Homo dalam rantai makanan, sampai belum lama ini, kokoh di tengah-tengah. Selama jutaan tahun, manusia memburu makhluk-makhluk yang lebih kecil dan mengumpulkan apa yang mereka bisa, seraya menjadi buruan pemangsa yang lebih besar. Baru 400.000 tahun silam beberapa spesies manusia mulai mengejar hewan buruan besar secara rutin, dan baru dalam 100.000 tahun silam -- dengan munculnya Homo sapiens -- manusia melompat ke puncak rantai makanan.

Lompatan spektakuler dari tengah ke puncak itu berakibat besar sekali. Hewan-hewan lain di puncak piramida, seperti singa dan hiu, berevolusi hingga mencapai posisi itu secara sangat bertahapm selama jutaan tahun. Ini memungkinkan ekosistem mengembangkan sistem keseimbangan yang mencegah singa dan hiu agar tidak menyebabkan kerusakan terlalu besar. Seiring semakin mematikannnya singa, antilop pun berevolusi sehingga bisa berlari lebih cepat, hyena bekerja sama dengan lebih baik, dan badak semakin pemberang. Sementara itu, umat manusia mendaki ke puncak dengan sedemikian cepat sehingga lingkungan tidak sempat menyesuaikan. Terlebih lagi, manusia sendiri gagal menyesuaikan diri. Sebagian besar predator puncak di planet ini merupakan makhluk-makhluk yang agung. Kekuasaan jutaan tahun telah membuat mereka memancarkan kepercayaan diri. Berbeda dengan mereka, Sapiens bagaikan diktator negara boneka. Karena terbiasa menjadi makhluk anak bawang di sabanan sampai belum lama ini, kita penuh dengan ketakutan dan kecemasan mengenai posisi kita, uang menjadikan kita dua kali lipat lebih kejam dan berbahaya. Banyak malapetaka dalam sejarah, dari perang yang mematikan sampai bencana ekologis, telah terjadi akibat lompatan terburu-buru ini.

Ras Juru Masak

SATU langkah besar dalam perjalanan menuju puncak adalah penjinakkan api. Sejumlah spesies manusia mungkin telah sekali-sekali menggunakan api 800.000 tahun silam. Sejak sekitar 300.000 tahun silam, Homoerectus, Neandertal, dan leluhur Homo sapiens menggunakan api untuk keperluan sehari-hari. Manusia jadi memiliki sumber cahaya dan kehangatan yang terandalkan, berikut senjata mematikan untuk melawan singa yang mengancam. Tak lama sesudahnya, manusia mungkin telah mulai sengaja menyulut kebakaran di lingkungan. Kebakaran yang dikelola secara berhati-hati dapat mengubah semak belukar gersang yang tak bisa dilewati menjadi padang rumput bagus yang disarati hewan buruan. Selain itu, begitu api padam, para wiraswasta Zaman Batu dapat berjalan menyusuri puing-puing kebakaran dan memanen hewan, kacang-kacangan, serta umbi yang telah terpanggang api.

Namun hal terbaik yang dilakukan api adalah memasak. Makanan yang tidak bisa manusia cerna dalam bentuk alaminya -- misalnya gandum, beras, dan kentang -- menjadi makanan pikik kita berkat masak-memasak. Api bukan hanya mengubah kondisi kimia makanan, melainkan juga biologinya. Manusia juga menjadi jauh lebih mudah mengunyah dan mencerna makanan kesukaan lamanya seperti buah-buahan, kacang-kacangan, serangga, dan bangkai, setelah semua itu dimasak. Sementara simpanse menghabiskan lima jam sehari mengunyah makanan mentah, satu jam sudah cukup bagi manusia untuk menyantap makanan yang dimasak.

Kemajuan masak-memasak memungkinkan manusia memakan lebih banyak jenis makanan, menghabiskan lebih sedikit waktu untuk makan, serta bersantap dengan gigi-geligi yang lebih kecil dan usus yang lebih pendek. Sejumlah cendekiawan percaya ada kaitan langsung antara kemajuan masak-memasak, memendeknya usus manusa, dan pertumbuhan otak manusia. Karena usus yang panjang dan otak yang besar sama-sama rakus energi, sulit untuk memiliki keduanya sekaligus. Dengan memperpendek usus dan menurunkan konsumsi energinya, masak-memasak tanpa sengaja membuka jalan untuk otak jumbo Neandertal dan Sapiens. <cit 1>

Api juga memunculkan jurang besar pertama antara manusia dan hewan-hewan lain. Kemampuan nyaris semua hewan bergantu kepada tubuh mereka: kekuatan otot, ukuran gigi, lebar sayap. Walaupun bisa memanfaatkan angin dan arus, mereka tidak mampu mengendalikan gaya-gaya alam ini, dan selalu terbatas oleh rancang bangun tubuh mereka. Rajawali, misalnya, mencari udara panas yang naik dari tanah, merentangkan sayap-sayap lebarnya, dan membiarkan udara panas mengangkatnya ke atas. Namun rajawali tidak bisa mengendalikan lokasi udara panas, dan daya angkat maksimumnya dibatasi ketat oleh lebar sayap.

Ketika berhasil menjinakkan api, manusia memperoleh kendali atas suatu kekuatan yang patuh dan berpotensi tak terbatas. Tak seperti rajawali, manusia bisa memilih kapan dan di mana harus menyulut api, dan manusia mampu mengeksploitasi api untuk tugas apa saja. Yang paling penting, kemampuan api tidak terbatas oleh bentuk, struktur, ataupun kekuatan tubuh manusia. Seorang perempuan yang sendirian namun membawa batu api atau korek api dapat membakar keseluruhan hutan dalam beberapa jam saja. Penjinakan api adalah pertanda awal hal-hal yang terjadi kemudian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

adipiscing elit

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nam condimentum nibh convallis, ullamcorper elit sit amet, facilisis elit. Curabitur facilisis nisl magna, faucibus convallis quam convallis sed. Mauris id lectus dignissim, congue erat eget, placerat mauris. Duis eu felis mollis lacus aliquam imperdiet. Vivamus lacinia odio quis vestibulum tincidunt. Suspendisse et neque nibh. Sed ut fringilla ligula. Curabitur felis sem, convallis vitae porttitor in, porttitor quis mi. Cras vestibulum rhoncus nisl, vel sagittis ipsum varius in. Phasellus molestie efficitur urna in dictum. Integer convallis dui quam, sed venenatis augue consectetur in. Praesent commodo tortor mattis ex vestibulum, pellentesque tincidunt metus dignissim. Sed ac venenatis urna. Praesent quis facilisis augue. Fusce mattis nisi vel enim feugiat finibus. Sed non nisi in arcu sodales tempor vel vel neque. Nulla ullamcorper orci urna, et ullamcorper nisi scelerisque quis. Quisque condimentum, odio id vulputate males...

Dolor Sit Amet

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nam condimentum nibh convallis, ullamcorper elit sit amet, facilisis elit. Curabitur facilisis nisl magna, faucibus convallis quam convallis sed. Mauris id lectus dignissim, congue erat eget, placerat mauris. Duis eu felis mollis lacus aliquam imperdiet. Vivamus lacinia odio quis vestibulum tincidunt. Suspendisse et neque nibh. Sed ut fringilla ligula. Curabitur felis sem, convallis vitae porttitor in, porttitor quis mi. Cras vestibulum rhoncus nisl, vel sagittis ipsum varius in. Phasellus molestie efficitur urna in dictum. Integer convallis dui quam, sed venenatis augue consectetur in. Praesent commodo tortor mattis ex vestibulum, pellentesque tincidunt metus dignissim. Sed ac venenatis urna. Praesent quis facilisis augue. Fusce mattis nisi vel enim feugiat finibus. Sed non nisi in arcu sodales tempor vel vel neque. Nulla ullamcorper orci urna, et ullamcorper nisi scelerisque quis. Quisque condimentum, odio id vulputate malesu...