ARGUMENTASI adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara. Melalui argumentasi penulis berusaha merangkaikan fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu menunjukkan apakah suatu pendapat atau suatu hal tertentu itu benar atau tidak. Argumentasi merupakan dasar yang paling fundamental dalam ilmu pengetahuan. Dan dalam dunia ilmu pengetahuan, argumentasi itu tidak lain daripada usaha untuk mengajukan bukti-bukt atau menentukan kemungkinan-kemungkinan untuk menyatakan sikap atau pendapat mengenai suatu hal.
Sebuah topik tertentu dapat saja disoroti dengan mempergunakan salah satu bentuk retorika modern. Topik perguruan tinggi misalnya dapat disoroti dengan mempergunakan keempat macam bentuk retorika itu. Seorang mahasisa, misalnya, dapat menulis mengenai topik itu dengan mempergunakan bentuk narasi, kalau ia berbicara atau berceritera mengenai sejarah pendirian dan perkembangan perguruan tinggi itu. Ia dapat juga mempergunakan bentuk deskripsi, bila ia berusaha melukiskan keadaan yang nyata sekarang dalam perguruan tinggi itul tentang pimpinannya, tentang peranan para dosen, mahasiswa, dsb. Atau ia dapat pula mempergunakan bentuk eksposisi, yaitu bila ia berusaha menguraikan tujuan atau cita-cita perguruan tinggi tersebut. Dan yang terakhir ia dapat juga mempergunakan bentuk argumentasi. Melalui argumentasi ia menyatakan pendiriannya agar diadakan perubahan dan perbaikan, atau bagaimana seharusnya kebijaksanaan pendidikan di perguruan tinggi. Agar para pembaca dapat diyakinkan mengenai maksudnya itu, ia harus mengemukakan pula bukti-bukti untuk memperkuat pendirian atau pendapatnya itu.
Dasar sebuah tulisan yang bersifat argumentatif adalah berpikir kritis dan logis. Untuk itu ia harus bertolak dari fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang ada. Fakta-fakta dan evidensi itu dapat dijalin dalam metode-metode sebagaimana dipergunakan juga oleh eksposisi. Tetapi dalam argumentasi terdapat motivasi yang lebih kuat. Eksposisi hanya memerlukan kejelasan, sebab itu fakta-fakta dipakai seperlunya. Namun argumentasi di samping memerlikan kejelasan, memerlukan juga keyakinan dengan perantaraan fakta-fakta itu. Sebab itu, penulis harus meneliti apakah semua fakta yang dipergunakan itu benar, dan harus meneliti pula bagaimana relevansi kualitasnya dengan maksudnya. Dengan fakta yang benar, ia dapat merangkaikan suatu penuturan yang logis menuju kepada suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Seorang yang kurang hati-hati dan tidak cermat menganalisa data-data tersebut, dapat menggagalkan seluruh usaha pembuktiannya.
Berdasarkan semua kenyataan di atas, maka untuk berbicara mengenai sebuah tulisan argumentatif, terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa dasar yang penting yang menjadi landasan argumentasi.
Untuk itu akan dikemukakan pertama-tama masalah penalaran yaitu bagaimana dapat merumuskan pendapat yang benar sebagai hasi dari suatu proses berpikir untuk merangkaikan fakta-fakta menuju suatu kesimpulan yang dapat diterima oleh akal sehat. Masalah lain harus dibicarakan sebelum berbicara mengenai tulisan argumentatif adalah mengenai beberapa corak penalaran. Ketiga, bagaimana mengadakan penilaian atau penolakan (kalau perlu) atas pendapat orang-orang lain atau pendapat sendiri yang pernah dicetuskan menyusun tulisan argumentatif itu sendiri. Dan kelima, akan dikemukakan pula masalah persuasi yang mempunyai pertalian erat dengan argumentasi, dan bahkan sering diadakan pengacauan atau kedua istilah tersebut.
Dalam tulisan sering kita mengutip pendapat orang yang terkenal untuk memperkuat pembuktian kita. Tetapi harus diperhatikan bahwa kemashuran dan kebesaran seseorang tidak selalu bisa dijadikan alasan untuk mengutip begitu saja pendapat dan pikiran autoritas itu tanpa memberikan suatu penilaian yang kritis. Yang benar adalah bahwa orang itu menjadi besar dan terkenal karena pendapat dan pikirannya yang diterima dan dikagumi orang sebagai pendapat dan pikiran yang benar dan luhur. Sebagai manusia, siapa saja dapat membuat kesalahan dan kekhilafan. Sebab itu setiap penulis harus bersikap kritis menghadapi pendapat orang-orang lain, baik orang yang terkenal maupun yang kurang terkenal.
Komentar
Posting Komentar